28 April 2021 | Dilihat: 603 Kali
PEMIMPIN VISIONER YANG MONUMENTAL
Kisah Bung Karno dan Silaban Membangun Masjid Istiqlal
noeh21
 

Penulis : H.  Amirulloh S.H,  MM
Redaktur Projustisianews

Di awal tahun 1950-an, KH Wahid Hasjim (ayahanda Gus Dur) y ang saat itu menjabat Menteri Agama RI dan H. Anwar Tjokroaminoto, bertemu di Deca Park sebuah gedung dekat Istana Negara. Dalam pertemuan itu, H. Anwar Tjokroaminoto yang juga anak dari tokoh nasional HOS Tjokroaminoto, mengusulkan pada KH Wahid Hasjim agar didirikan Masjid yang agung, menjadi kebanggaan Indonesia yang baru saja Merdeka. Usul ini ditanggapi dengan serius oleh KH Wahid Hasjim yang pada intinya menyetujui, lalu KH Wahid Hasjim meminta Anwar sendirilah yang bertemu Presiden Sukarno, karena secara pribadi Anwar dekat dengan Bung Karno.

“Bung Karno sendirilah di waktu lalu yang membiayai sunatan Anwar, saat Pak HOS Tjokroaminoto dipenjara Pemerintahan Hindia Belanda”.
Satu pagi, setelah pertemuan di Deca Park, Anwar datang ke Bung Karno dan bicara soal Masjid, seusai pembicaraan dengan Anwar, Bung Karno merenung dalam dalam tentang kebesaran Islam dalam sebuah Indonesia Raya, dalam pikiran Bung Karno : Bangsa Indonesia menuju peradaban baru, peradaban dimana dari dalamnya tumbuh Taman Sari Kebudayaan, di dalamnya tumbuh dari spiritualitas yang sadar akan Ketuhanan, sadar akan pengertian dan puncak kesadaran akan Ketuhanan adalah “Toleransi”. Puncak dari kesadaran adalah Toleransi, inilah kenapa Pancasila jangan hanya berhenti di Sila Pertama, tapi Pancasila adalah rangkaian dari Sila Pertama sampai Sila Kelima, sehingga membentuk apa yang disebut Manusia Indonesia, yang punya nilai-nilai dasar.

Tapi dalam perenungan filsafat, sudah jadi tradisi Bung Karno bahwa suatu alam pikir perlu wadah. Dan wadah itu bisa diwujudkan dalam bangunan yang menunjukkan kemegahan, kekuatan dalam berdiri dalam badai sejarah, pemikiran yang tajam.

Disitulah kemudian berkembang Pemikiran agar Indonesia memiliki Masjid Agung, Masjid yang besar.
Lalu pada tahun 1955, Presiden Sukarno mengumpulkan anak buahnya dan berkata “aku ingin Indonesia memiliki Masjid yang menjadi simbol ‘pembebasan’, simbol kemerdekaan”. Dan tercetuslah bahwa untuk mewujudkan itu perlu diadakan ‘Sayembara’.
“Biarlah saya yang jadi Ketua Dewan Juri-nya” kata Bung Karno seraya tersenyum. Bung Karno adalah seorang arsitek, ia lulusan Arsitek THS Bandung (Sekarang ITB). Ia amat pandai menggambar bangunan dari sisi seni, tapi ia seturut pengakuannya memang agak lemah di Matematika.

Entah mengapa, Bung Karno menghadapkan Masjid yang ingin ia bangun itu berhadapan dengan Gereja Kathedral, keseimbangan spiritual terjaga dalam lintasan wilayah Gambir. Adalah sangat menyentuh hati, bila melihat banyak umat beribadah di tempat masing masing dalam kesejukan hati. Indonesia tumbuh dari pesona kelembutan hati umat beragama.

Kemudian datanglah berbagai macam ajuan gambar Masjid yang akan diuji oleh Bung Karno. Setelah masuk ke evaluasi Maket, ada 22 dari 30 Arsitek yang masuk persyaratan.

Entah kenapa gambar dari Friedrich Silaban menarik perhatian Bung Karno.
“Suatu gambar Masjid yang gagah, yang bisa menggetarkan alam batin manusia” itulah yang tergambar dari karya F.Silaban.

Saat bertemu dengan F.Silaban, Bung Karno mendengarkan tuturan Silaban, lantas Bung Karno berkata lirih : “Kamu hadir sebagai By the grace of God...sebagai kemurahan Tuhan dalam membangun masjid ini”.

Silaban adalah anak Batak, beragama Kristen Protestan lahir di Bonandolok, Sumatera Utara 16 Desember 1912. Ia adalah otodidak dari awal mulanya, Silaban sekolah di HIS namun suka sekali menggambar, pernah ia lakukan saat di HIS adalah menggambar “gereja tua” di desanya.

Bakat ini ia kembangkan, walaupun ia tidak bersekolah di Arsitek namun secara otodidak ia belajar ilmu menggambar bangunan dengan baik lewat caranya sendiri.

Masjid Istiqlal adalah perenungan yang dalam, secara rinci ia mengatur sirkulasi udara, ia merancang kaca kaca patri yang kerap digunakan di bangunan kathedral. Sebuah arsitek adalah bangunan dialektis atas sejarah peradaban.

Saat itu ada lima juara yang masuk dalam evaluasi tahap akhir. F.Silaban dengan judul “Ketuhanan”, R. Utoyo dengan judul desain Istighfar, Hans Gronewegen dengan judul : Salam, sekelompok mahasiswa ITB dengan judul : “Ilham”. Juga ada kelompok mahasiswa ITB lain yang mengajukan nama desain : Khatulistiwa.

Rancangan Ketuhanan dimenangkan oleh juri yang diketuai Bung Karno, dan anggotanya adalah Ir.Rooeseno, Ir. Djoeanda Kartawidjaja, Raden Soeratmoko, Ir Soewardi, Ir. Ukar Bratakusumah, Buya Hamka, Abu Bakar Atjeh dan Oemar Hoesein Amien.
Di tanggal 5 Juli 1955, Bung Karno menetapkan rancangan Silaban-lah yang menang. Kemudian dibangunlah Masjid Istiqlal.
Di masa Bung Karno, “Konsepsi Persatuan Indonesia” amat jelas, tidak ada politisasi agama dalam perebutan kekuasaan, semua berkesadaran kebangsaan.

Melihat Silaban dan Istiqlal kita seperti dibawa melihat betapa kita menjadi Indonesia yang menyadari adanya rasa Ketuhanan, agama adalah puncak dari jalan hidup manusia untuk memahami kehadiran Tuhan di dalam dirinya, dan puncak kesadaran itu adalah “Toleransi”.

Istiqlal selain sebagai simbol “Pembebasan” simbol “Kemerdekaan” juga simbol besar toleransi, karena itu amatlah berlawanan bila kemudian Istiqlal malah dijadikan tempat besar intoleransi. Apalagi melakukan agenda agenda politik dengan menjual emosi agama secara murah.

Pemerintah dan masyarakat harus mengembalikan Ruh masjid Istiqlal itu sebagai simbol besar Pembebasan, Simbol besar “Islam sebagai Rahmatan Lil’Alamin” dan sebagai pesan betapa berbudayanya umat Islam di Indonesia.(**)

Alamat Redaksi/ Tata Usaha
Jalan Ceger Raya No. 27  Ceger,
Kecamatan  Cipayung Jakarta Timur - INDONESIA
Telp :  021- 836.83.83
Hotline  : 021- 0812 -1853-3128
Email: Binzar67@ g.mail.com