10 Juli 2020 | Dilihat: 71 Kali
PENDIDIKAN TOLERANSI (TEPOSLIRO)
noeh21
 

Oleh Dr Gempur Santoso 

Toleransi. Mungkin bahasa jawanya "teposliro". Bahasa Indonesia "ngerti".

Memang tidak harus ngomong. Tapi otomatis. Kita ajak ke warung makan, ketika kita tahu persis kalau teman kita lapar. Atau contoh teposliro yang lainnya. Kalau ngomong, bisa-bisa teman kita tidak mau diajak ke warung - makan.

Memang ada pekerjaan harus ngomong, ada juga harus tidak ngomong.

Memang harus tidak ngomong tapi kita lakukan. Karena "jangan sampai orang lain menuhankan kita. Atau, jangan sampai kita ingin jadi tuhan". Amal, tidak harus ngomong.

Toleransi itu budaya dan seni dalam habluminannas (hubungan sesama secara horisontal). Agar tetap rukun dengan sesama. Kebalikannya agar tidak cengkre (jahat) terhadap sesama.

Dalam pendidikan. Toleransi itu termasuk afektif (perilaku). Falsafat Jawa, itu roso (rasa). Itu merupakan latihan "spiritual" horisontal. Biarlah malaikatnya Tuhan (Allah SWT) mencatat perbuatan kita.

Tidak semua pekerja seni harus diam. Harus ngomong juga. Misal melawak, menyanyi, wayang orang, ngludruk, dan sebagainya. Dulu ada, lawak pun harus diam, lucu, seperti saat lihat film "carry caplin".

Jadi, kapan harus ngomong atau tidak. Rasa kita yang tahu.
Rasa yang tajam akan tahu.

Ngomong, manjadikan ramai, buat apa. Tidak ngomong, membuat ramai, juga buat apa. Intinya tetap bisa rukun damai. Teposliro. Toleransi.

Tolerance. Toleransi. Bahasa Belanda: speeling. Bahasa pasaran bengkel mobil, spel. Bahasa tekniknya: kelonggaran. Misal: piston dan silinder, ada standar kelonggarannya/toleransi. Agar bisa masuk, mesin pun normal.

Diameter piston 50 mm, diameter silindernya 50 mm. Tanpa toleransi. Pasti sulit masuk. Dipaksa akan pecah.

Kalau toleransi piston dan silider telalu besar. Maka, mesin akan tak bunyi atau kasar atau bahkan rusak - koklok.

Dalam masyarakat pun ada kelonggaran/toleransi. Toleransi itu berupa "teposliro".

Tepo - tepak - artinya baik. Sliro - kamu. Jadi bagaimana kita berbuat yang baik, tidak menyinggung atau menyakiti hati orang lain.

Dengan demikian hidup tidak kaku, tidak keras, bahkan tidak ada kekerasan, jadilah tidak rusak. Di masyarakat, "teposliro" yang normal, atau shaleh secara pribadi dan sosial.

Dalam pendidikan bidang afektif. Sudah ada bibit afektif yang harus dikembangkan. Agar muncul teposliro:

1. Jujur (tidak menyakiti yang lain, tidak mencuri, tidak bohong, tidak menipu, dan sebagainya).

2. Indah (enak dilihat, enak didengar, enak dalam pikiran).

3. Menyenangkan (suka tolong menolong, suka memberi, suka memuji, suka bergaul dengan siapa saja, bisa bekerja sama/berorganisasi, suka memaafkan dan minta maaf, "menghidupi", dan sebagainya).

Dalam belajar afektif itu, lama-lama akan terbentuk toleransi atau teposliro. Jujur, indah, menyenangkan. Untuk orang lain atau dirinya.

Kebaikan itu terus menerus dilakukan, banyak yg melakukan. Termasuk toleransi/teposliro. Terjadilah proses budaya atau budaya setempat.

Budaya. Budi - artinya keluhuran hati. Daya - artinya kekuatan. Jadi, kekuatan hati untuk membuat kebaikan. Itu ada yang menyebut budaya. Dalam masyarakat melakukan keshalehan pribadi dan sosial. Toleransi.

Dalam pendidikan tidak cukup belajar afektif saja. Tetapi, harus juga belajar koginitf (ilmu dan pengetahuan). Juga, psikomotorik (tindakan yang trampil).

Afektif, kognitif, psikomotik. Tiga hal simultan yang saling mempengaruhi dalam diri manusia masing-masing. Semua kita tingkatkan dengan belajar, belajar, dan belajar. Long life education (belajar seumur hidup).

Apakah Anda sudah bisa toleransi dalam hidup dan kehidupan? Belajarlah. (oleh : Prof.Gempur Santoso, Penasehat MOI Jatim, Guru Besar Universitas Adi Buana Surabaya)

Alamat Redaksi/ Tata Usah
Jalan Ceger Raya No. 27  Ceger, Kecamatan  Cipayung Jakarta Timur